Assalamu'alaikum..,  Ahlan wa Sahlan  |  sign in

Bersama Dakwah

Bersama Dakwah


Dukungan Kelompok Islam ke Capres Ikhwan Mulai Mengkristal

Posted: 29 May 2012 06:27 PM PDT


Dukungan kepada Muhammad Mursi dalam pemilihan presiden (pilpres) Mesir putaran kedua terus mengalir. Kelompok-kelompok Islam yang pada putaran pertama 23-24 Mei lalu terpecah ke sejumlah capres, kini mulai mengkristal mendukung capres dari Ikhwanul Muslimin itu.

Partai salafi terbesar di Mesir, Hizb An-Nur, telah mengumumkan dukungannya kepada Mursi pada putaran kedua pilpres Mesir yang akan berlangsung 16-17 Juni mendatang.

"Komite Tinggi Hizb An-Nur mendukung Dr Mohammad Mursi sebagai presiden republik (Mesir) dalam putaran kedua" kata partai itu di akun Twitter resmi.

Sebelumnya, pada putaran pertama Hizb An-Nur mengusung capres Abu Futuh, yang tidak lain adalah mantan anggota Ikhwanul Muslimin. Abu Futuh menempati urutan keempat pada putaran pertama, di bawah Mursi, Shafiq, dan Sabbahi.

Selain Hizb An-Nur, kelompok-kelompok Salafi lainnya juga memberikan dukungan kepada Mursi. Selain salafi, kelompok Islam lainnya seperti Jama'ah Islamiyah yang telah mendirikan partai Al Binaa wa Al Tanmiyah juga menyatakan dukungannya kepada Mursi.

"…kami mendukung Mursi, meskipun mereka belum meminta kepada kami, karena kami lebih mengutamakan kepentingan negara di atas segalanya," jelas Wakil pimpinan partai Al Binaa wa Al Tanmiyyah, Hassan Hamdi. Ia menambahkan, pihaknya mendukung Mursi pada putaran kedua, meskipun selama 30 tahun pihaknya berselisih dengan Ikhwan dan pada putaran pertama mendukung Abu Futuh.

Hasil pemilihan presiden (pilpres) Mesir putaran pertama menempatkan Muhammad Mursi dan Ahmad Shafiq di posisi pertama dan kedua. Secara resmi, komisi pemilihan mengumumkan Mursi dan Shafiq akan maju dalam pilpres putaran kedua, 16-17 Juni mendatang. Agaknya, pertarungan Mursi dan Shafiq adalah pertarungan antara kelompok Islam dan pro revolusi melawan kelompok sekuler dan status quo. [IK/Rpb/Hdy/bsb]

Turki Kembali Ajarkan Al-Qur'an Setelah Satu Abad Dilarang

Posted: 29 May 2012 12:54 AM PDT


Pemerintah Turki akan kembali mengajarkan Al-Qur'an dan huruf Arab di sekolah-sekolah setelah satu abad sebelumnya dilarang. Hal itu terungkap dalam Simposium Internasional kelima bertema persatuan Islam yang berlangsung di Ankara, Senin (28/5).

Ali Kurt, ketua Yayasan Wakaf Hayrat sebagai pelaksana simposium mengatakan, kementerian pendidikan nasional Turki telah meminta pihaknya untuk menyiapkan konsep dan tenaga guru untuk pengajaran Al-Quran dan tulisan Arab Utsmani di sekolah-sekolah dan madrasah di seluruh Turki.

"Ini tugas berat yang kami tunggu-tunggu selama ini," kata Ali.

Ketua Umum DPP Persatuan Umat Islam (PUI) Nurhasan Zaidi menyatakan, pihaknya sangat mendukung upaya pengajaran Al-Qur'an tersebut. Anggota DPR faksi PKS itu menambahkan, Turki perlu menghapus undang-undang yang melarang pengajaran Al-Qur'an itu agar niat baik pemerintah memiliki payung hukum.

"Kami akan sampaikan usul ini ketika besok bertemu Parlemen Turki," kata Nurhasan yang akan bertemu parlemen Turki hari ini (29/5) bersama 24 utusan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam lainnya.

Menurut Nurhasan, pelarangan pengajaran Al-Qur'an dan bahasa Arab di sekolah-sekolah Turki selama seratus tahun telah membuat masyarakat Turki banyak yang tidak bisa membaca Al-Quran dan menulis Arab. Padahal, Turki pernah menjadi pusat peradaban Islam selama lima abad Khilafah Turki Usmani.

Sejak Mustafa Kemal Ataturk mendirikan Republik Turki setelah mengambil kekuasaan dari Kesultanan Turki Usmani pada tahun 1923 silam, segala hal yang berbau Arab dan Islam dihapuskan. Turki benar-benar didesain sebagai negara yang sangat sekuler. Selain melarang jilbab, Ataturk juga melarang pengajaran Al-Qur'an di sekolah dengan undang-undang. Ia juga mengganti tulisan Arab dengan tulisan latin. [IK/Rpb/bsb]
21:26 | 0 komentar